بسم الله الرحمن الرحيم
(قال محمّد هو ابن مالك : ﺃحمد ربّى الله خير مالك)
Imam Muhammad ibnu Malik akan berkata seperti telah berkata : Aku memuji Tuhanku Allah swt sebaik-baiknya Dzat yang menguasai kerajaan)
@ Mushannif memulai karangannya dengan memperkenalkan diri pribadinya adalah suatu hal yang sangat penting, karena pada dasarnya ilmu terbagi kepada 3 macam :
عقلى محض(Murni Rasio)
(قال محمّد هو ابن مالك : ﺃحمد ربّى الله خير مالك)
Imam Muhammad ibnu Malik akan berkata seperti telah berkata : Aku memuji Tuhanku Allah swt sebaik-baiknya Dzat yang menguasai kerajaan)
@ Mushannif memulai karangannya dengan memperkenalkan diri pribadinya adalah suatu hal yang sangat penting, karena pada dasarnya ilmu terbagi kepada 3 macam :
عقلى محض(Murni Rasio)
seperti ilmu perhitungan, hisab, matematika, ketidaktahuan kepada
periwayat ilmu tersebut tidak berdampak apapun (tidak masalah) karena
argumentasinya ada bersamanya),
نقلى محض (Murni Naqal/ teks hasil menyalin) seperti ilmu hadits harus mengetahui perawinya dan sifat keadilannya, jika tidak mengetahuinya maka batallah hadits yang diucapkannya,
Tersusun antara Murni Rasio dan Naqal seperti ilmu Nahwu, mengetahui siapa naqil (orang yang menyalin ilmu tersebut) sangat perlu agar mampu memahami arah suatu teks kepada aqal (rasio).
@ Mushannif memperkenalkan namanya pada buku karangannya ini (Alfiyah) bukan karena tujuan riya, sombong, ujub dan sebagainya akan tetapi semata-mata tahadduts binni’mat atas anugerah keilmuan yang Allah berikan kepadanya serta sebagai nasihat kepada para pembaca jangan seperti bangunan yang rapuh atau anak yang tak kenal akan orang tuanya. Dalam pribahasa Arab :
“ Barang siapa yang tidak mengenal pengarang kitab (yang dibaca) nya ia seperti sebuah bangunan tanpa pondasi atau ia seperti anak yang tak kenal siapa bapaknya “
Dalam bait ini Mushannif menggunanakan ungkapan قال fi’il madhi yang menunjukan pada waktu lampau padahal yang dimaksud disini adalah يقولmasa yang akan datang, dalam hal ini menurut Ulama Bayan (satelistik bahasa) termasuk Majaz Isti’arah Tashrihiyyah Taba’iyyah fil Fi’li, sebagian mengatakan Majaz Mursal Min Ithlaqi Ma Kana wa Irodati Ma Yakunu. Dan pengungkapan semacam ini sangat sering digunakan dalam Bahasa Arab, seperti Firman Allah swt :
ﺃتى ﺃمر الله ( Akan terjadi Hari Kiamat). Persoalan ini memang Khuruj ‘an Muqtadhoz Zhohir (keluar dari ketentuan umum yang sudah jelas disepakati oleh para Ulama) oleh karena itu harus ada Nuktah/ Rahasia untuk pembenarannya, dan nuktah yang dijadikan pembenaran oleh mushanif dalam hal ini adalah bertujuan ترغيبا للطالب فى كتابه agar santri (para pengkaji Alfiyah) merasa senang dan suka akan kitabnya.
@ Nama asli dari Imam Muhammad Ibnu Malik adalah Imam Jamaluddin (‘alami laqob) Abu Abdillah (‘alami kuniyah) Muhammad (isim ‘alami) bin Abdullah bin Malik Al- Thoi al Al- Andalusiy (Spanyol).
@ Terjadi khilafiyah akan tahun kelahiran Imam Ibnu Malik sebagian pendapat mengatakan beliau Lahir pada Tahun 597 H – 669 H, sebagian lagi berpendapat beliau lahir Tahun 600 H – 672 H, beliau wafat pada umur 72 tahun tanggal 12 Sya’ban akhir malam sebelum tiba waktu Shubuh.
Jika dipertanyakan dalam pengucapan Nama Mushannif mendahulukan alami Laqob dari pada alami isim karim = Imam Jamaluddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Malik Al- Thoi al Al- Andalusiy bukan Muhammad Jamaluddin Abu Abdillah padahal semestinya bilamana bergabung antara alami laqob dengan alami isim karim maka alami Laqob wajib di akhirkan sesuai dengan bait :
واسما اتى وكنية ولقبا : واخرن ذا ﺇن سواه صحبا
Maka jawabnya sebagai berikut : Kewajiban mendahulukan Alami isim karim dari alami laqob adalah ketika Alami laqob tersebut kurang populer (gelar yang kurang terkenal) akan tetapi jika alami laqobnya itu sangat populer bahkan lebih populer dari nama aslinya maka sangat diperkenankan sekali mendahulukan alami laqob dari alami isim karim. Seperti sering kita temui dalam ungkapan Arab :
a. Al Masih Isa ( bukan Isa Al masih)
b. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali (Bukan Muhammad Hujatul islam)
c. Atau dalam ungkapan bahasa Indonesia Presiden Soekarno (bukan Soekarno Presiden) , dst.
@ Alasan Imam ibnu Malik mencantumkan nama pribadinya dengan nama Muhammad bin Malik padahal nama asli beliau adalah Muhammad bin Abdullah sebagai berikut :
Ta’addub (bertata krama/ beretika) kepada Nabi Besar Muhammad saw, karena nama beliau dan nama orang tua beliau sama dengan Nama Nabi dan orang tua Nabi.
Kemasyhuran (kepopuleran) nama Kakeknya melebihi kepopuleran nama ayahnya.
Iqtida’an (mengikuti apa yang pernah digunakan) oleh Nabi Saw karena nabi pernah menisbahkan dirinya kepada kakeknya,
انا النبىّ لا كذب * انا ابن عبد المطلّب
Aku adalah seorang Nabi Tak Berdusta * Aku adalah Putra Abdul Muthollib
Tafa’ul akan Luasnya keilmuwan Sang Kakek (Imam Malik)
Agar berfaidah Qoshod Jinas Tam antara kata مالك (yang berposisi sebagai ‘arudh) pada sathar Awal dengan kata مالك (yang berfungsi sebagai dhorob) pada sathar kedua
نقلى محض (Murni Naqal/ teks hasil menyalin) seperti ilmu hadits harus mengetahui perawinya dan sifat keadilannya, jika tidak mengetahuinya maka batallah hadits yang diucapkannya,
Tersusun antara Murni Rasio dan Naqal seperti ilmu Nahwu, mengetahui siapa naqil (orang yang menyalin ilmu tersebut) sangat perlu agar mampu memahami arah suatu teks kepada aqal (rasio).
@ Mushannif memperkenalkan namanya pada buku karangannya ini (Alfiyah) bukan karena tujuan riya, sombong, ujub dan sebagainya akan tetapi semata-mata tahadduts binni’mat atas anugerah keilmuan yang Allah berikan kepadanya serta sebagai nasihat kepada para pembaca jangan seperti bangunan yang rapuh atau anak yang tak kenal akan orang tuanya. Dalam pribahasa Arab :
“ Barang siapa yang tidak mengenal pengarang kitab (yang dibaca) nya ia seperti sebuah bangunan tanpa pondasi atau ia seperti anak yang tak kenal siapa bapaknya “
Dalam bait ini Mushannif menggunanakan ungkapan قال fi’il madhi yang menunjukan pada waktu lampau padahal yang dimaksud disini adalah يقولmasa yang akan datang, dalam hal ini menurut Ulama Bayan (satelistik bahasa) termasuk Majaz Isti’arah Tashrihiyyah Taba’iyyah fil Fi’li, sebagian mengatakan Majaz Mursal Min Ithlaqi Ma Kana wa Irodati Ma Yakunu. Dan pengungkapan semacam ini sangat sering digunakan dalam Bahasa Arab, seperti Firman Allah swt :
ﺃتى ﺃمر الله ( Akan terjadi Hari Kiamat). Persoalan ini memang Khuruj ‘an Muqtadhoz Zhohir (keluar dari ketentuan umum yang sudah jelas disepakati oleh para Ulama) oleh karena itu harus ada Nuktah/ Rahasia untuk pembenarannya, dan nuktah yang dijadikan pembenaran oleh mushanif dalam hal ini adalah bertujuan ترغيبا للطالب فى كتابه agar santri (para pengkaji Alfiyah) merasa senang dan suka akan kitabnya.
@ Nama asli dari Imam Muhammad Ibnu Malik adalah Imam Jamaluddin (‘alami laqob) Abu Abdillah (‘alami kuniyah) Muhammad (isim ‘alami) bin Abdullah bin Malik Al- Thoi al Al- Andalusiy (Spanyol).
@ Terjadi khilafiyah akan tahun kelahiran Imam Ibnu Malik sebagian pendapat mengatakan beliau Lahir pada Tahun 597 H – 669 H, sebagian lagi berpendapat beliau lahir Tahun 600 H – 672 H, beliau wafat pada umur 72 tahun tanggal 12 Sya’ban akhir malam sebelum tiba waktu Shubuh.
Jika dipertanyakan dalam pengucapan Nama Mushannif mendahulukan alami Laqob dari pada alami isim karim = Imam Jamaluddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah bin Malik Al- Thoi al Al- Andalusiy bukan Muhammad Jamaluddin Abu Abdillah padahal semestinya bilamana bergabung antara alami laqob dengan alami isim karim maka alami Laqob wajib di akhirkan sesuai dengan bait :
واسما اتى وكنية ولقبا : واخرن ذا ﺇن سواه صحبا
Maka jawabnya sebagai berikut : Kewajiban mendahulukan Alami isim karim dari alami laqob adalah ketika Alami laqob tersebut kurang populer (gelar yang kurang terkenal) akan tetapi jika alami laqobnya itu sangat populer bahkan lebih populer dari nama aslinya maka sangat diperkenankan sekali mendahulukan alami laqob dari alami isim karim. Seperti sering kita temui dalam ungkapan Arab :
a. Al Masih Isa ( bukan Isa Al masih)
b. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali (Bukan Muhammad Hujatul islam)
c. Atau dalam ungkapan bahasa Indonesia Presiden Soekarno (bukan Soekarno Presiden) , dst.
@ Alasan Imam ibnu Malik mencantumkan nama pribadinya dengan nama Muhammad bin Malik padahal nama asli beliau adalah Muhammad bin Abdullah sebagai berikut :
Ta’addub (bertata krama/ beretika) kepada Nabi Besar Muhammad saw, karena nama beliau dan nama orang tua beliau sama dengan Nama Nabi dan orang tua Nabi.
Kemasyhuran (kepopuleran) nama Kakeknya melebihi kepopuleran nama ayahnya.
Iqtida’an (mengikuti apa yang pernah digunakan) oleh Nabi Saw karena nabi pernah menisbahkan dirinya kepada kakeknya,
انا النبىّ لا كذب * انا ابن عبد المطلّب
Aku adalah seorang Nabi Tak Berdusta * Aku adalah Putra Abdul Muthollib
Tafa’ul akan Luasnya keilmuwan Sang Kakek (Imam Malik)
Agar berfaidah Qoshod Jinas Tam antara kata مالك (yang berposisi sebagai ‘arudh) pada sathar Awal dengan kata مالك (yang berfungsi sebagai dhorob) pada sathar kedua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar